Coklat


By Mule

Suatu hari di musim kemarau, di pelosok Jakarta, di pinggr kota, aku berjalan seorang diri menyusuri koridor yang temaram. Walaupun sinar mentari sore yang bagai emas, menerpa lantai-lantai keramik berwarna coklat, beberapa diantaranya ada yang pecah, aku tak merasakan adanya gejolak semangat untuk terus melanjutkan langkah ini. Jadi, kuputuskan untuk berhenti sejenak di koridor itu lalu menikmati angin sepoi sore yang menerpa wajahku. Kusandarkan tubuhku di tembok pembatas dan menopang dagu dengan salah satu kepalan tanganku.

Sejenak aku tertegun menyaksikan pemandangan di lantai lapangan, di bawah sana. Seorang anak perempuan berlari-lari sambil menggiring bola dengan lincahnya. Sambil mengalahkan para penghadangnya, sampailah ia di depan gawang, kakinya sudah bersiap-siap menendang bola. Kulihat disinar matanya, suatu tatapan penuh percaya diri. Aku semakin tertarik dengan kelanjutan permainan ini. Aku terus menatap perempuan itu dan tanpa sadar bahwa dari sisi kanannya telah berlari seorang lawan hendak mencegah satu tendangan yang akan dilakukan perempuan itu.

“Awas!” teriakku begitu sadar. Perempuan itu segera menoleh ke arah lawan yang akan menghadang langkahnya itu lalu ia mempercepat langkah kakinya untuk membuat satu harapannya itu menjadi kenyataan.

Wush…

Bola ditendang tepat pada arah di mana sang kipper lemah karena salah arah.

PRIT!!!

Bunyi peluit panjang tanda pertandingan berhenti. Tapi peluit ini bukan hanya menyatakan sebuah goal telah dicetak. Aku lebih memilih kalau peluit itu dibunyikan tanda permainan harus dihentikan saat itu juga, kalau pemainnya mengalami suatu pelanggaran, kalau pemainnya cidera, kalau perempuan itu sekarang mengerang kesakitan memegang kakinya yang ditubruk dengan keras, tepat di tulang keringnya.

Jelas, bagiku pemain terbaik, menurut prediksiku, kalau ia sudah tidak dapat melanjutkan permainan itu lagi.

“Medis!” teriak sang wasit.

Baru saja aku mau berbalik menuruni tangga, aku ingin tahu siapa perempuan itu, seseorang sudah menepuk pundakku sehingga aku berbalik kaget.

“Hai,” sapa seorang perempuan. Cantik, itulah kata pertama yang melintas di otakku.

“Hai,” kataku akhirnya.

“Sedang apa di sini?” tanyanya seolah kami sudah saling mengenal.

Aku mengangat alisku tanda bingung, “Hem, sedang menonton permainan futsal yang sangat seru sekali di bawah sana.”

“Oh yah?” kata perempuan itu seolah sangat tertarik.

“Apa kau mengenalku?”

“Kau? Kau tidak ingat padaku?” tanya perempuan itu kembali.

“Aku? Tidak.” Aku menggelengkan kepala sedikit, mencoba menjaga sikapku.

“Aneh, padahal daritadi kau melihat pertandingan futsal di bawah, kan?”

“Yah, memang. Lalu apa hubungannya?” Aku semakin bingung dibuat perempuan ini. Kutatap matanya lekat-lekat, lalu kucermati wajahnya. Cantik. Lalu apa? Sepertinya ada sesuatu, sesuatu yang aku lupakan.

“Sudah ingat?” perempuan itu menyuarakan suaranya lagi, suaranya ringan, suara yang seolah pernah kudengar, tapi kapan?

“Benar-benar tak ingat rupanya,” kata perempuan itu sedikit kecewa, lalu berbalik dan meninggalkan aku seorang diri yang masih kebingungan.

“Siapa?” gumamku sambil memutar otak, berusaha mengingat kejadian demi kejadian dan menyusunnya kembali dalam satu potongan cerita, mengulang setiap kejadian yang baru saja terjadi dan mengingat kembali setiap kata-kata perempuan itu. Aku memandang punggung perempuan itu sampai hilang di belokan di ujung koridor.

Desi, nama yang tertera di baju punggung belakangnya.

“Jadi itu namanya?” gumamku lagi. “Desi.”

“Desi, Desi.” Aku mengulang nama itu.

“Desi?” Aku mulai merasa aneh dengan nama ini.

“Desi!” Sekarang aku ingat!

Aku melongokan leherku ke arah lapangan di bawah sana, suasana sudah sepi, tak tampak permainan tadi berlangsung.

“Hei, ke mana…” Suaraku tercekat.

Di bawah sana, bukanlah lapangan futsal seperti yang tadi kulihat. Aku mengusap mataku, sekali, dua kali, tapi pemandangan di bawah memang bukan lapangan kosong. Di bawah sana adalah rimbunan pohon lebat dan sebuah gundukan tanah, dengan sebuah papan.

Tulisan di papan itulah yang membuat tanganku bergetar, lututku kuyu dan mulutku menganga lebar.

R.I.P

Desi R.

Lahir: 6 Juli 1987

Wafat: 4 September 2005

Behind the screen

9/10/11 Berlindung dr hujan yang masuk --- Dengan Steph :)
9/10/11 Berlindung dr hujan yang masuk --- Dengan Steph :)

Advertisements

2 Responses to Coklat

  1. Stepvir says:

    ceritanya bagus yah, siapa yang buat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: