Coklat

9 October, 2011

By Mule

Suatu hari di musim kemarau, di pelosok Jakarta, di pinggr kota, aku berjalan seorang diri menyusuri koridor yang temaram. Walaupun sinar mentari sore yang bagai emas, menerpa lantai-lantai keramik berwarna coklat, beberapa diantaranya ada yang pecah, aku tak merasakan adanya gejolak semangat untuk terus melanjutkan langkah ini. Jadi, kuputuskan untuk berhenti sejenak di koridor itu lalu menikmati angin sepoi sore yang menerpa wajahku. Kusandarkan tubuhku di tembok pembatas dan menopang dagu dengan salah satu kepalan tanganku.

Sejenak aku tertegun menyaksikan pemandangan di lantai lapangan, di bawah sana. Seorang anak perempuan berlari-lari sambil menggiring bola dengan lincahnya. Sambil mengalahkan para penghadangnya, sampailah ia di depan gawang, kakinya sudah bersiap-siap menendang bola. Kulihat disinar matanya, suatu tatapan penuh percaya diri. Aku semakin tertarik dengan kelanjutan permainan ini. Aku terus menatap perempuan itu dan tanpa sadar bahwa dari sisi kanannya telah berlari seorang lawan hendak mencegah satu tendangan yang akan dilakukan perempuan itu. Read the rest of this entry »

Advertisements