Kisah di Sekolah


Kami berenam terdiam beberapa saat, di depan’ku ada Pak Alex dan Pak Andy, guru fisika kami, yang sedang memikirkan pemecahan masalah kami. Tiba-tiba Ruth berkata dengan mata agak berkunang-kunang “Lebih baik saya mengundurkan diri dari pada saya dipaksa masuk kelompok 2”. Pak Alex menjawab ”Kalau itu keputusanmu, silahkan pergi”. Maka pergilah Ruth dari laboratorium dengan sedih.

Pada hari Rabu pagi Pak Alex jalan memasuki kelas kami untuk memanggil John, Samuel, Adi, Ruth, Nadia, dan aku untuk membantu membuat adaptor. Lalu kamipun minta izin kepada Pak Eko, guru matematika yang sedang mengajar di kelas kami, kemudian kamipun langsung pergi ke laboratorium fisika. Di tengah perjalanan aku bertanya ”Buat apa kita membuat adaptor?” Sahut Adi ”Buat lomba kali…” Jawab’ku ”Lomba apa?” Sahut Ruth “Lomba Science seperti tahun kemarin, kitakan tuan rumah jadi harus memberi contoh.” Jawab’ku “Oh, ya. Aku kok jadi lupa?” Setibanya di sana ternyata sudah ada Pak Andy yang sedang menyiapkan peralatan. Kemudian datanglah Pak Alex dan menyuruh Samuel dan Ruth mencari data dan gambar adaptor di internet, maka pergilah Samuel dan Ruth ke ruang komputer. Sisanya membantu melanjutkan membuat adaptor karena kita harus membuat 2 adaptor dalam waktu 3 hari.

Setelah kami tidak mengikuti pelajaran selama 2 hari kami baru bisa membuat 1 adaptor. Pada hari yang ketiga kita baru mulai membuat adaptor yang ke 2. Ternyata kita tidak dapat menyelesaikan adaptor yang ke 2.

Keesokan harinya, 2 jam sebelum lomba Science dimulai Pak Alex membagi kami menjadi 2 kelompok yaitu : Kelompok 1 untuk adaptor 1 dan kelompok 2 untuk adaptor 2. Aku, Adi, John, Ruth, dan Samuel berharap bisa sekelompok bersama Nadia karena dia adalah siswa yang pintar fisika dan pintar presentasi juga.

Tetapi Pak Alex memasukkan Nadia, Adi, John ke dalam kelompok 1. Dan sisanya kelompok 2, karena hanya aku berada di kelompok yang adaptornya belum jadi dan di kelompok’ku hanya aku yang membantu membuat adaptor, jadi aku yang disuruh presentasi padahal aku tidak bisa presentasi. Maka aku protes kepada Pak Alex ”Kenapa kita harus ikut lomba bukannya kita disuruh ke sini untuk membantu membuat alat seperti tahun kemarin untuk menjadi contoh. Dan Bapak tidak bilang kepada kami dari awal.” Tetapi Pak Alex tetap diam saja. Lalu Nadia pun menawarkan diri kepada Pak Alex untuk masuk kelompok 2, tetapi Pak Alex berkata ”Nadia, saya mau kamu masuk kelompok 1.” Aku merasa Pak Alex sangat pilih kasih.

Kemudian Pak Andy menjelaskan teorinya kepada Ruth dan Samuel. Lalu Pak Alex berkata ”Bagaimana Ruth, Samuel siap untuk presentasi?” Kami berenam terdiam beberapa saat, di depan’ku ada Pak Alex dan Pak Andy yang sedang memikirkan pemecahan masalah kami. Tiba-tiba Ruth berkata dengan mata agak berkunang-kunang “Lebih baik saya mengundurkan diri dari pada saya dipaksa masuk kelompok 2”. Pak Alex menjawab ”Kalau itu keputusanmu, silahkan pergi”. Maka pergilah Ruth dari laboratorium dengan sedih.

Maka pikir’ku hancurlah kelompok 2, karena diantara kami hanya Ruth-lah yang bisa presentasi. Setelah itu akupun harus menerima hasil ketidak adilan itu. Setelah selesai lomba aku langsung meninggalkan laboratorium.

Ini cuma sebuah cerpen hasil karya Gw
Jika ada kesamaan nama dan kisah mohon jangan buat keributan
Peace yo…!!!

Advertisements

One Response to Kisah di Sekolah

  1. W-cH's says:

    wah…..

    kisah elektro di sekolah…

    cerita yang cukup bagus

    Albertus ChW : Thanks atas pujiannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: